Kelompok konservasi dunia World Wide Fund for Nature (WWF) 
mengumumkan temuan spesies baru di Kalimantan. Spesies baru itu salah satunya adalah serangga atau belalang stik (Phobaeticus chani) dengan total panjang 56,7 sentimeter yang ditemukan di kawasan yang disebut "Heart of Borneo", tepatnya di hutan hujan tropis perbatasan antara Malaysia, Indonesia, dan Brunei.
Warga Kalimantan Tengah biasa menyebut serangga itu belalang bilah kayu dan yang lazim dijumpai hanya berukuran panjang 7-10 sentimeter.
Temuan serangga ini salah satu dari 123 spesies yang baru ditemukan di kawasan tersebut. Spesies lainnya adalah temuan kodok berkepala datar sepanjang 7 sentimeter (Barbourula kalimantanensis) yang sepenuhnya bernapas melalui kulit, bukan melalui paru-paru.
Kemudian ditemukan juga siput ekor panjang warna kuning (Ibycus rachelae), yang menggunakan "panah cinta" terbuat dari kalsium karbonat untuk menembus dan menyuntik hormon ke jodoh dalam bereproduksi.
Menurut data resmi WWF yang bermarkas di Malaysia, kawasan "Heart of Borneo" yang sebagian besar wilayahnya ada di Indonesia dalam setiap bulan rata-rata ditemukan tiga spesies.
Kawasan tersebut merupakan rumah bagi 10 spesies primata, sekitar 350 spesies burung, 150 reptil dan amfibi, serta 10.000 spesies tanaman. FIA
Betul betul amazing Indonesia 

mengumumkan temuan spesies baru di Kalimantan. Spesies baru itu salah satunya adalah serangga atau belalang stik (Phobaeticus chani) dengan total panjang 56,7 sentimeter yang ditemukan di kawasan yang disebut "Heart of Borneo", tepatnya di hutan hujan tropis perbatasan antara Malaysia, Indonesia, dan Brunei.
Warga Kalimantan Tengah biasa menyebut serangga itu belalang bilah kayu dan yang lazim dijumpai hanya berukuran panjang 7-10 sentimeter.
Temuan serangga ini salah satu dari 123 spesies yang baru ditemukan di kawasan tersebut. Spesies lainnya adalah temuan kodok berkepala datar sepanjang 7 sentimeter (Barbourula kalimantanensis) yang sepenuhnya bernapas melalui kulit, bukan melalui paru-paru.
Kemudian ditemukan juga siput ekor panjang warna kuning (Ibycus rachelae), yang menggunakan "panah cinta" terbuat dari kalsium karbonat untuk menembus dan menyuntik hormon ke jodoh dalam bereproduksi.
Menurut data resmi WWF yang bermarkas di Malaysia, kawasan "Heart of Borneo" yang sebagian besar wilayahnya ada di Indonesia dalam setiap bulan rata-rata ditemukan tiga spesies.
Kawasan tersebut merupakan rumah bagi 10 spesies primata, sekitar 350 spesies burung, 150 reptil dan amfibi, serta 10.000 spesies tanaman. FIA

Tiga di antara 18 individu manusia prasejarah hasil ekskavasi tim Puslitbang Arkenas di Gua Harimau itu sepertinya dikubur pada saat bersamaan dalam satu liang. Persis di bawah rangka utama, dua rangka individu lain terlihat saling bersentuhan dalam posisi bagai menyangga "sang majikan" yang dikubur di atas keduanya.
Posisi penguburan yang unik sekaligus menimbulkan tanda tanya. Mungkinkah dalam sistem penguburan pada masa itu, antara 3.500 dan 2.000 tahun lalu, manusia prasejarah di Nusantara telah mengenal strata sosial di mana apabila ada tokoh atau orang-orang tertentu meninggal, maka perlu ada tumbal yang harus ikut dikubur? Mungkinkah sudah ada kepercayaan kehidupan setelah mati di alam lain sehingga "sang majikan" tetap perlu dilayani pascakematiannya?
"Segala kemungkinan selalu ada, tetapi yang pasti seluruh rangka manusia dari Gua Harimau merupakan ras Mongoloid," kata Harry Widianto, ahli paleoantropologi yang juga adalah Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.
Harry begitu yakin temuan "kuburan" massal di Gua Harimau adalah sisa-sisa rangka manusia prasejarah dari ras Mongoloid. Keyakinan itu berangkat dari ciri-ciri morfologis rangka temuan, terutama dari bentuk tengkorak yang meninggi dan membundar (brachycephal), tulang tengkorak bagian belakang (occiptal) yang datar, morfologi gigi seri, bentuk orbit mata, kedalaman tulang hidung (nasal), serta dari postur tulang dan tubuh mereka yang khas Mongoloid.
"Ciri-ciri morfologisnya memang menunjukkan identitas mereka sebagai bagian dari ras Mongoloid," kata Harry.
Siklus kehidupan
Individu-individu itu umumnya dikubur dengan orientasi timur (kepala) dan barat (kaki). Lewat penguburan semacam ini, patut diduga bahwa mereka sudah mengenal semacam filosofi tentang siklus kehidupan. Arah timur sebagai lokasi kepala adalah arah matahari terbit, sedangkan barat sebagai arah kaki adalah arah matahari tenggelam. Dalam konteks ini, penguburan dengan orientasi semacam itu mengacu pada asal mula (timur) dan akhir (barat) dari kehidupan.
Filosofi itu juga tecermin dari adanya penguburan terlipat, yang menggambarkan posisi bayi di dalam perut sebelum ia dilahirkan. Dengan mengubur secara terlipat diharapkan pada saat kematian yang bersangkutan telah dibebaskan dari segala belenggu duniawi dan dikembalikan pada kehidupan awal pada saat dia mati.
"Dengan demikian, posisi penguburan terlipat tersebut mengisyaratkan individu tersebut kembali suci pada saat dia meninggal," tutur Harry Widianto.
Melalui temuan ini, teori baru tentang alur migrasi manusia prasejarah pendukung budaya Austronesia ke Nusantara perlu dibangun kembali. Paling tidak, teori lama bahwa "pendudukan" Sumatera oleh ras Mongoloid dari daratan Asia melalui Taiwan-Filipina-Sulawesi—kemudian dalam perjalanan migrasi mereka selanjutnya ke Madagaskar melalui Kalimantan, Sumatera, dan Jawa (dikenal sebagai teori "Out of Taiwan")—bukanlah satu-satunya kebenaran.
Sebab, temuan-temuan rangka manusia berikut artefak tinggalan budaya mereka di kawasan perbukitan karst Padang Bindu, Sumatera Selatan—juga temuan semasa di Ulu Tijanko, Jambi—menunjukkan usia yang sama tuanya (sekitar 3.500 tahun) dengan budaya Austronesia di Sulawesi, misalnya. Tafsir baru yang dapat dimajukan adalah bahwa sejak awal persebaran ras Mongoloid tidak hanya terjadi di bagian tengah Nusantara (jalur Taiwan-Filipina-Sulawesi), tetapi juga di bagian barat melalui daratan Asia Tenggara ke Sumatera-Jawa.
"Sisa-sisa rangka manusia di Gua Harimau, juga di Pondok Selabe dan Gua Putri yang masih dalam satu kawasan, adalah bukti dari pergerakan ’jalur baru’ tersebut," kata Harry.
Patut diduga mereka inilah para penghuni awal Sumatera. Dalam tahap evolusi lebih lanjut, beribu-ribu tahun kemudian—setelah menanggalkan status sebagai "manusia gua" dengan hidup dan menetap di lembah dan dataran yang lebih luas—mereka pun membangun kebudayaan baru di daratan yang kini disebut sebagai Pulau Sumatera. Dan, Gua Harimau adalah salah satu lokasi kuburan para leluhur orang-orang Sumatera itu
Gua Harimau Tak Angker Lagi
MASIH banyak tanda tanya dari penemuan fosil manusia purba berumur 3.000 tahun di Gua Harimau, Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kamis pekan silam. Apalagi tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Departemen Budaya Pariwisata mengakui penemuan ini tergolong luar biasa di Indonesia.Jangankan mendekatinya, mendengar nama Gua Harimau saja membuat bulu kuduk berdiri. Begitulah mitos yang tertanam di benak warga Desa Padangbindu. Dinamakan Gua Harimau karena pada zaman dahulu, di gua yang memiliki pintu masuk sekitar 40 m-50 m tersebut terkenal tempat harimau menyimpan hasil buruannya. Gua dengan kemiringan 60 derajat hingga 80 derajat ini konon menjadi sarang harimau.
Seperti dituturkan Ketua Adat Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten OKU, Abdul Kori (72), kepada Sripo, Jumat (6/3), dahulu kala leluhur Desa Padangbindu bernama Sang Aji Bagur melarang anak cucunya mendekati Gua Harimau. Gua yang berjarak sekitar 1,5 km atau satu jam berjalan kaki dari Desa Padangbindu itu terkenal angker.
Bila ada yang berani mendekati wilayah itu dipastikan tidak akan selamat. Niscaya ia dimakan harimau. Kisah itu, menurut Kori, memang ada benarnya sebab ada beberapa warga yang pernah menemukan sisa-sisa tulang hewan di dalam gua.
Seiring berjalannya waktu, manusia pun semakin pintar. Mitos larangan mendekati Gua Harimau mulai dilanggar. Warga mulai berani mendekati Gua Harimau yang ternyata menyimpan harta karun sebab di langit-langit gua banyak sarang burung walet. Sejak itulah warga tidak takut lagi mendekati Gua Harimau untuk mencari rezeki. “Sekarang gua itu tidak lagi angker,” urai Kori.
Bahkan, sudah banyak petani yang membuka kebun dan ladang di sekitar gua. Tiap hari Gua Harimau dilalui pejalan kaki menuju ladang. Maka keangkeran gua pun sirna.
Bentuk fisik gua
Versi lain mengatakan, nama Gua Harimau diambil dari bentuk fisik gua karena pintu masuk gua mirip mulut harimau yang sedang menganga, dengan gigi-gigi dan taring yang tajam.
Bila diperhatikan secara seksama bentuk fisik gua memang ada kemiripan dengan mulut harimau yang siap menyantap mangsanya.
Namun, hingga sejauh ini tokoh masyarakat setempat mengaku belum tahu persis asal mula gua yang memiliki langit-langit (atap gua) setinggi 20-30 meter itu sehingga dinamakan Gua Harimau.
Ketua Adat Desa Padangbindu mengakui, suasana di sekitar Gua Harimau dulu dan sekarang memang sudah jauh berbeda. Goa yang dulu terkenal angker dan sangat ditakuti warga kini tidak lagi.
Terbukti kedatangan tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berhari-hari melakukan penelitian di lokasi di dalam gua. Hasilnya sangat mengagetkan. Peneliti berhasil menemukan fosil empat kerangka manusia prasejarah yang diperkirakan berumur 3.000 tahun di dalam gua.
Penemuan lainnya di dalam gua selain kerangka (lukisan di dalam gua dan kalung berbandul taring babi hutan) dan sejumlah peralatan rumah tangga yang terbuat dari batu. Temuan arkeolog di Desa Padangbindu ini menambah informasi lagi peradaban dan kebudayaan manusia purba.
Fosil Otak Tertua Berusia 300 Juta Tahun
TAHUKAH Anda, jaringan otak yang sangat lunak ternyata bisa bertahan hingga 300 juta tahun meski sudah dalam bentuk fosil. Ini merupakan fosil otak tertua yang pernah ditemukan.Fosil otak tersebut ada di dalam kepala fosil seekor ikan yang ditemukan di bagian tengah AS. Para peneliti baru mengetahuinya setelah melakukan pemindaian menggunakan sinar-X sehingga tak merusak tengkorak dan tubuh fosil ikan tersebut.
"Otak jelas jaringan yang sangat lunak dan sebagian besarnya air. Bisa tersisa sungguh sangat bernilai," ujar John Maisey, seorang pelontolog di Museum Sejarah Nasional di New York, AS. Dengan adanya penemuan ini, ia jadi berpikir kemungkinan temuan sejenis lainnya dari hewan berbeda sehingga dapat mempelajari sejarah evolusi otak.
Hasil pemindaian menunjukkan otak ikan jenis iniopterygian tersebut hanya sebesar biji kacang, jauh lebih kecil daripada rongga otaknya. Hal sama terlihat juga pada ikan hiu dan pari yang memiliki tingkat pertumbuhan ukuran otak sangat lamban dibandingkan ukuran tubuhnya. Ini beralasan karena iniopterygian diduga merupakan nenek moyang ikan tikus yang juga saudara jauh ikan hiu dan pari.
Selain itu, otak ikan tersebut memiliki rongga penglihatan yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa ikan tersebut menggunakan mata sebagai alat andalannya mencari mangsa.
Sementara itu, bagian otak yang mengatur indera pendengaran terlihat datar. Hal ini menunjukkan bahwa struktur telinganya yang mungkin peka terhadap gerakan horizontal daripada gerakan vertikal.
"Ia sungguh ikan yang sangat misterius dan mengundang keingintahuan bagaimana caranya bergerak dan apa saja yang dapat dilakukannya," kata Maisey.




